Selasa, 28 Februari 2017

Pergeseran Paradigma Pembangunan Pada Negara-Negara Berkembang (Isu-Isu Negara Berkembang)

Adanya krisis pada negara berkembang seperti Amerika Latin tahun 80’ an, membuat mereka mengalami keterpurukan yang dalam sehingga mereka hampir tidak dapat bertahan sebagai sebuah negara. Krisis yang berkepanjangan ini pun dianggap serius oleh beberapa pihak, dan pada akhirnya membuat Amerika Serikat menyelenggarakan konferensi bersama dengan Inggris pada saat itu di Bretton Woods. Pada akhir konferesi, kedua belah pihak menyepakati adanya sebuah sistem yang dinamakan Bretton Woods System. Sistem ini pada akhirnya menciptakan sebuah aturan yang disebut dengan Washington Consensus yang dibuat di Amerika Serikat. Pada sistem ini, nilai-nilai neo-liberal yang diambil  di dalam 10 (sepuluh) aturan yang ditetapkan di dalam Washington Consensus ini. Aturan ini dimaksudkan agar negara-negara berkembang dapat keluar dari jeratan krisis ekonomi yang melanda mereka.

Beberapa poin dari Washington Consensus itu menginginkan bahwa negara yang terkena krisis harus meliberalisasi pasarnya dan juga harus melakukan privatisasi BUMN. Implementasi dari washington consensus ini biasa disebut dengan Structural Adjustment Programmes (SAP). Namun, setelah kurang lebih 10 (sepuluh) tahun berjalan, banyak pihak yang menilai bahwa sistem ini pun tidak berjalan sesuai dengan keinginan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya negara-negara berkembang yang telah mencoba memakai sistem ini dan tetap menghadapi krisis. Beberapa pakar menyebutkan bahwa kegagalan dari sistem ini bukan karena semata-mata sistem ini tidak sesuai dengan negara berkembang, namun mereka menyebutkan bahwa aspek internal suatu negara berkembang lah yang membuat sistem ini menjadi gagal.

Setelah Washington consensus telah dinilai gagal di dalam menghilangkan krisis di suatu negara, muncul pula konsep baru yang bertujuan untuk meningkatkan pembangunan di negara berkembang. Konsep ini dinamakan Comprehensive Development Framework (CDF) yang merupakan sebuah pendekatan dari tiga sisi yaitu sisi ekonomi, sosial, dan budaya agar proses pembangunan ini berjalan dengan lancar. Adanya  konsep yang baru ini akan memaksa negara berkembang untuk menata ulang sisi ekonomi, sosial, dan politik agar menjadi lebih kuat dan terhindar dari bahaya krisis. Dengan adanya konsep ini juga diharapkan negara-negara berkembang yang menerapkannya dapat memiliki daya saing di dunia Internasional di dalam bidang apapun sehingga dapat memaksimalkan kualitas ekonominya.


Dari penjelasan diatas, kita dapat melihat bahwa setiap kejadian yang ada memiliki sebuah penyelesaian yang  berbeda-beda mengikuti dengan jaman yang mereka hadapi. Kita melihat bahwa pemakaian Bretton Woods syetem hingga Post-Washington Consesus yang membentuk Comprehensive Development Framework (CDF) dibuat untuk menyelesaikan masalah-masalah agar sebuah negara dapat terhindar dari krisis. Dengan adanya berbagai macam kebijakan ini juga tentu mempermudah sebuah negara untuk dapat meningkatkan kualitasnya dan bisa memiliki daya  saing di dunia Internasional. Seiring berjalannya waktu, kita harus tetap menganalisa setiap kejadian yang ada dan harus dapat memprediksi beragam ancaman yang akan kita hadapi di masa yang akan datang, sehingga kita dapat bertahan dari sebuah tantangan pembangunan global yang ada. 





Oleh : Ray Patrick Rayner (145120407111037)

Minggu, 26 Februari 2017

What Does Development Mean? A Rejection Of Unidimensional Conception (MPP)

Pembangunan merupakan sebuah usaha negara untuk dapat memberikan sebuah kenyamanan bagi seluruh masyarakat yang ada di dalamnya. Dari banyak model pembangunan yang ada, terdapat dua model pembangunan utama yang diterapkan oleh beberapa negara yaitu model pembangunan konvensional dan alternatif. Model pembangunan konvensional merupakan model pembangunan yang hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Hal yang dimaksudkan adalah negara berupaya untuk meningkatkan perekonomiannya dengan harapan agar masyarakat yang hidup di dalamnya memiliki kondisi finansial yang mencukupi untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Tentu kita mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa model pembangunan yang konvensional tujuan nya sama dengan “memperkaya diri” yang dimana negara berusaha untuk terus meningkatkan GNP per kapitanya. Model ini juga merupakan model yang diberikan oleh negara barat kepada negara dunia ketiga agar negara dunia ketiga ini dapat menyetarakan hidupnya dengan negara-negara yang ada di barat.

Model pembangunan alternatif adalah sebuah model yang tidak berdasarkan pada peningkatan ekonomi saja, namun lebih mengutamakan pada faktor kebutuhan utama sekaligus yang merupakan kebutuhan paling mendasar di dalam kehidupan bernegaranya. Sehingga dapat dikatakan nilai lokal lah yang diutamakan di dalam membentuk suatu negara untuk dapat berkembang dan menjadi negara yang maju. Kemunculan dari model pembangunan alternatif ini juga merupakan sebuah bentuk penolakan kepada negara barat yang memberikan model pembangunan konvensional yang tidak cocok untuk diterapkan di negara yang masih berkembang.  oleh karena itu, negara yang mengunakan model pembangunan alternatif ini tidak terlalu berbicara banyak tentang ekonomi, tetapi lebih kepada mementingkan kebutuhan masyarakat pada saat ini, dan ketika itu terpenuhi maka negara akan melihat kembali keinginan masyarakat yang lainnya yang dirasa paling penting. Dari kedua model pembangunan yang telah di jabarkan, memang sulit untuk melihat mana model pembangunan yang paling tepat untuk sebuah negara agar bisa berkembang dan sampai ke tahap maju. Akan tetapi kedua model pembangunan ini memiliki kesamaan untuk dapat meningkatkan kekuatan suatu negara agar negara tersebut tidak mengalami krisis ataupun runtuh sebagai sebuah negara.

Penggunaan model pembangunan baik yang konvensional maupun alternatif juga tentu memberikan dampak yang positif sekaligus negatif di saat yang bersamaan. Hal ini dapat dilihat dari pola perilaku negara yang ingin berkembang namun memiliki keterbatasan baik di dalam sektor teknologi atau dari sektor finansial sekalipun. Ketidakmampuan ini lah yang akan menciptakan ketergantungan bagi mereka yang ingin berkembang sehingga kerap kali hal ini dimanfaatkan oleh negara lain yang sudah maju untuk mengeksploitasi negara yang sedang berkembang ini. Ini merupakan salah satu alasan ketika negara ingin berkembang akan memberikan dampak yang positif sekaligus negatif bagi negara itu sendiri.  


Menurut saya pembangunan merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menentukan cara suatu negara untuk mempertahankan kedudukannya di dunia internasional. Tentunya kedudukan disini juga tidak lepas dari negara yang telah maju dari awal yang memberian label kepada negara-negara yang kurang maju atau bahkan terbelakang dari berbagai faktor sehingga negara yang kurang maju atau terbelakang ini ingin menjadi seperti negara yang maju tersebut. Dengan demikian, semua negara yang tidak termasuk negara maju berusaha memperbaiki kekurangannya agar bisa disamakan dengan negara maju tersebut. Yang menjadi permasalahan disini ketika negara yang kurang maju atau terbelakang ini memperbaiki kekurangannya, negara maju juga telah memberikan peningkatannya sehingga terdapat kesenjangan yang sulit untuk diperkecil. Hal yang paling baik menurut saya ketika berbicara tentang pembangunan yaitu kita sebagai suatu negara tidak perlu melihat kondisi negara lain untuk menjadi acuan di dalam pola pembangunan. Kita seharusnya bisa menganggap diri kita maju ketika kita sudah merasa tercukupi tanpa harus melihat negara lain dengan status tercukupi nya sendiri, sehingga kita tidak akan merasa tidak puas dengan hasil yang ada sekarang.